Sunday, August 3, 2014

LAPORAN KEGIATAN MENJADI RELAWAN DI DEPO DAUR ULANG TZU CHI

LAPORAN KEGIATAN
MENJADI RELAWAN DI DEPO DAUR ULANG TZU CHI



Program Studi Nutrition and Food Technology
Kelas A
Kelompok Bunga Bleeding Heart

1.            Amirah Yasminum      (203136540110612)
2.            Elaine Alethea            (203132747016085)
3.            Felicia Devina            (203132609131280)
4.            Giovani Tanjaya         (203135459367867)
5.            Idelia Sanjaya             (203131617782536)
6.            Stella Aprillia               (203132790937313)
7.            Vania Gisella               (203138259265249)

Nilai Presentasi : 89,64


Tangerang
2014





KATA PENGANTAR


Pertama-tama penulis panjatkan puja dan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena tanpa-Nya penulis tidak dapat menyelesaikan makalah tentang laporan kegiatan “Menjadi Relawan di Depo Daur Ulang Tzu Chi” dengan baik dan tepat waktu. Tidak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Aryaning Arya Kresna selaku dosen pengampu kewarganegaraan yang membimbing penulis dalam pengerjaan tugas makalah ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada teman-teman penulis yang selalu setia membantu dalam hal mengerjakan dan mengumpulkan data-data dalam pembuatan makalah ini.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini jauh dari sempurna, baik dari segi penyusunan, bahasan, maupun penulisannya.  Maka dari itu penulis mohon saran & kritik yang membangun dari teman-teman dan khususnya dari dosen guna menjadi bekal pengalaman bagi penulis agar menjadi lebih baik di masa mendatang. Semoga makalah ini dapat bermanfaat untuk membangun wawasan dan peningkatan pengetahuan bagi kita semua.
Tangerang,     Juli 2014

Penulis



DAFTAR ISI

Kata Pengantar...................................................................................................................... 1

Daftar Isi.................................................................................................................................. 2

Pendahuluan........................................................................................................................... 3

          1.    Latar Belakang.......................................................... .................................................. 3     

          2.    Rumusan Masalah..................................................... .................................................. 3


          3.    Tujuan.......................................................................................................................... 4


          4.    Tinjauan Pustaka....................................................... ................................................... 4


Isi................................................................................................................ ........................... 6


Kesimpulan dan Saran............................................................................................................. 10

          1.      Kesimpulan................................................................................................................. 10

          2.      Saran.......................................................................................................................... 10

Daftar Pustaka......................................................................................................................... 11

Lampiran.................................................................................................................................. 12
 




BAB I

PENDAHULUAN

1.    LATAR BELAKANG

Berdasarkan data sensus penduduk tahun 2010, jumlah penduduk Indonesia mencapai  237.641.326 jiwa (BPS, 2010). Masyarakat Indonesia masih mengalami beberapa masalah yang disebabkan oleh banyaknya jumlah penduduk yang ada, salah satunya dalam aspek pengelolaan lingkungan. Banyak pohon yang ditebang untuk memenuhi kebutuhan kertas. Penggunaan plastik sebagai kemasan juga berkontribusi besar dalam penumpukan sampah sedangkan plastik membutuhkan waktu yang sangat lama untuk terurai. Menurut data statistik persampahan domestik Indonesia, sampah plastik menduduki peringkat kedua, yaitu sebesar 5.4 juta ton per tahun atau sekitar 14% dari total produksi sampah. Pada peringkat ketiga terdapat sampah kertas dengan jumlah 3.6 juta ton per tahun atau sekitar 9% dari total produksi sampah (Indonesia Solid Waste Association, 2013).

Sekarang ini sering diadakan aksi penghijauan, penghematan energi, serta daur ulang agar kondisi lingkungan tetap terjaga. Setiap individu, terutama generasi muda perlu menyadari pentingnya pengelolaan lingkungan seperti hal-hal tersebut agar lingkungan tidak rusak. Berdasarkan tujuan tersebut, diharapkan setiap individu dapat bersama-sama menjadi relawan di Depo Daur Ulang dan belajar mengolah sampah kertas maupun plastik agar dapat dijadikan hal yang lebih bermanfaat.

2.    RUMUSAN MASALAH

1.    Bagaimana Depo Daur Ulang Yayasan Tzu Chi mengelola sampah kertas dan plastik yang mereka terima?
2.    Bagaimana orang-orang yang ada di Depo Daur Ulang Yayasan Tzu Chi ingin menjadi relawan?
3.    Bagaimana cara yang harus dilakukan untuk membantu kegiatan daur ulang?

3.    TUJUAN

1.    Mendeskripsikan cara mengelola sampah kertas dan plastik.
2.    Menumbuhkan kesadaran masyarakat pentingnya menjadi relawan daur ulang.
3.    Mengetahui hal  apa yang dapat dilakukan untuk membantu kegiatan daur ulang.

4.    TINJAUAN PUSTAKA


Yayasan Tzu Chi didirikan pertama kali di negara Taiwan yang berlokasi di kota Hualien pada tanggal 14 April 1966. Pendiri yayasan Tzu chi adalah Master Cheng Yen yang merupakan seorang bikhuni. Niat Master Cheng Yen untuk membuat suatu yayasan sosial muncul ketika ayahnya meninggal dan beliau menyadari bahwa hidup ini singkat dan selalu berubah. Sejak saat itulah, beliau mendalami agama Buddha dan menjadi bikhuni pada tahun 1964.

Niat Master Cheng Yen semakin nyata ketika beliau mengunjungi seorang temannya di sebuah balai pengobatan di daerah Fenglin. Ketika beliau keluar dari kamar pasien, beliau mendapati bercak darah di atas lantai yang ternyata milik seorang wanita yang mengalami keguguran. Karena tidak memiliki biaya pengobatan, wanita tersebut akhirnya tidak dapat berobat dan terpaksa dibawa pulang. Mendenger hal ini, Master Cheng yen akhirnya memutuskan untuk menolong orang yang sakit dan miskin dengan mengumpulkan dana amal di Taiwan bagian timur.

Kegiatan pertama yang dilakukan adalah merajut sepasang sepatu bayi untuk fakir miskin. Setiap anggota diberi sebuah celengan bambu agar dapat menyisihkan sedikit dari uang mereka untuk disumbangkan. Kabar ini kemudian meluas dan semakin banyak umat yang ingin menyumbang. Yayasan Tzu Chi yang awalnya hanya berada di tempat yang tidak sampai 20 m2, kini telah menjadi sebuah yayasan yang tersebar di berbagai negara di dunia. Negara-negara tersebut adalah Taiwan, Australia, Selandia Baru, Malaysia, Indonesia, Filipina, Thailand, Singapura, Jepang, Hong Kong, Vietnam, Brunei, Amerika Serikat, Kanada, Meksiko, Republik Dominika, El Salvador, Guatemala, Paraguay, Brasil, Argentina, Austria, Britania Raya, Perancis, Jerman, Belanda, Spanyol, Yordania, Turki, Afrika Selatan, dan Lesotho.

Anggota dari yayasan Tzu Chi ini digolongkan berdasarkan 4 jenis pakaian yang mereka kenakan, yaitu: Jas dan Chong Sam, kaus berwarna biru tua, kaus berwarna abu-abu, dan kaus berwarna biru keunguan. Jas dan Chong Sam merupakan tingkatan keanggotaan tertinggi, yang disebut juga komite. Anggota yang telah mencapai tingkatan ini akan dilantik langsung oleh Master Cheng Yen. Kaus berwarna biru tua dikenakan oleh para anggota relawan yang lebih tua atau yang telah berumur. Dalam acara-acara tertentu, para komite juga akan memakai kaus berwarna biru tua. Kaus berwarna abu-abu dipakai oleh semua kalangan. Tingkatan ini merupakan tingkatan yang umum. Dalam tingkatan ini, tidak hanya terdapat orang dewasa, anak-anak juga dapat masuk ke dalam tingkatan ini. Kaus berwarna biru keunguan ini dipakai untuk relawan yang tergolong remaja. Tingkatan relawan ini disebut juga tzu jing.

Untuk menghormati orang yang lebih tua, relawan-relawan tzu chi akan memanggil relawan yang sudah komite dan yang memakai kaus berwarna biru tua dengan sebutan  shi ku dan shi bo. Shi ku merupakan panggilan untuk wanita dan  shi bo untuk pria. Dalam Tzu jing, mereka akan memanggil kakak mereka dengan shixiong untuk laki-laki dan shijie untuk perempuan.

Logo Tzu Chi dilambangkan dengan bunga teratai yang memiliki 8 kelopak yang melambangkan 8 jalan mulia yang meliputi: pandangan benar, pikiran benar, ucapan benar, perbuatan benar, mata pencaharian benar, usaha benar, perhatian benar, dan konsentrasi benar. Gambar perahu melambangkan Tzu Chi sebagai pengemudi cinta kasih yang akan menyelamatkan makhluk hidup dari penderitaan.

Logo Tzu Chi





BAB II

ISI



Pada tanggal 25 Mei 2014, kami dari kelompok bunga Bleeding Heart berkesempatan untuk menjadi relawan di depo daur ulang yang dikelola oleh Yayayan Buddha Tzu Chi. Depo ini berlokasi di Jalan Teratai Summarecon Serpong, Tangerang. Sebelum menjadi relawan, kami mendaftarkan diri ke Kantor Penghubung Tzu Chi yang berlokasi di Komplek Ruko Pinangsia Blok L No. 22, Karawaci, Tangerang. Setelah itu, kami mendapatkan persetujuan untuk menjadi relawan di depo daur ulang.

Kegiatan diawali dengan tibanya kami di depo daur ulang pukul 8.00 dan bertemu dengan pengurus serta relawan-relawan lain. Kami diarahkan ke suatu tempat dan dijelaskan bagaimana kami harus memulai. Gunting, tang, ember, dan botol-botol plastik bekas sudah disiapkan untuk kami. Ternyata, hal yang harus kami lakukan adalah melepas ring botol, merobek plastik botol, memisahkan tutup botol, dan menginjak-injak botol serta memisahkan botol berwarna.

Kelompok kami terdiri dari 7 orang, yaitu Amirah Yasminum S., Elaine Alethea, Felicia Devina, Giovani Tanjaya, Idelia Sanjaya, Stella Aprillia, dan Vania Gisella yang terbagi menjadi 2 tim. Memisahkan ring, tutup serta plastik botol dilakukan oleh Felicia, Giovani, Idelia, Stella, dan Vania. Sedangkan, Amirah dan Elaine bertugas untuk menginjak botol dan melakukan pemisahan terhadap botol-botol berwarna.

Kegiatan daur ulang berlangsung selama empat jam diselingi dengan makan snack dan makan siang sebagai penutup. Setelah dua jam berlalu, kami diberi waktu istirahat. Beberapa jenis kue serta jelly telah dipersiapkan sebelumnya oleh shijie (sebutan untuk relawan perempuan) dan shixiong (sebutan untuk relawan laki-laki). Kami makan bersama-sama dengan relawan lain dan pengurus Tzu Chi. Waktu juga kami manfaatkan untuk berbincang-bincang dengan relawan lain.

Setelah kami menghabiskan snack dan jelly, piring yang kami gunakan harus kami cuci sendiri. Disini kami diajarkan untuk bersikap mandiri dan bertanggung jawab atas barang-barang yang telah kami gunakan. Selesai mencuci, kami melanjutkan kegiatan daur ulang kembali. Walaupun begitu banyak botol plastik yang harus diolah, tetapi kami melihat ada keceriaan diantara relawan-relawan daur ulang. Hal ini menyemangati kami untuk terus melanjutkan tugas mendaur ulang hingga selesai.

Dua jam berlalu, tiba saatnya kami menyelesaikan semua pekerjaan dan makan siang. Hasil daur ulang botol yang didapatkan oleh kelompok kami dan relawan-relawan lain kemudian disatukan. Tidak terasa, jumlah tumpukkan botol-botol plastik yang telah diolah sangat banyak. Kerja keras yang telah dilakukan kami beserta relawan-relawan lain membuahkan hasil yang memuaskan. Setelah itu, kami makan siang dan berfoto bersama. Kami juga mewawancarai beberapa relawan, shijie, dan shixiong.

Wawancara yang kami lakukan memuat 4 pertanyaan penting:
1.    Darimanakah Anda mengetahui Depo Daur Ulang Yayasan Tzu Chi?
2.    Sudah berapa lama Anda menjadi relawan?
3.    Mengapa Anda tertarik untuk menjadi relawan?
4.    Apa tanggapan, kesan dan pesan Anda terhadap Depo Daur Ulang Yayasan Tzu Chi?
Kami memutuskan untuk mewawancarai 2 relawan, shijie, shixiong, dan pengurus Depo Daur Ulang Yayasan Tzu Chi.

Bapak Leo mengetahui Depo Daur Ulang Yayasan Tzu Chi dari tetangga serta kerabatnya. Beliau telah menjadi relawan selama kurang lebih 3 bulan. Menurut Bapak Leo, Yayasan Tzu Chi menghasilkan hal-hal yang baik. Barang-barang yang tidak berguna diolah menjadi sesuatu yang berguna, dan nantinya akan dijual. Hasil dari penjualan akan digunakan yayasan untuk membantu orang-orang yang kesusahan. Selain itu, tujuan dari Tzu Chi juga dinilai baik yang membuat Bapak Leo tertarik untuk bergabung menjadi relawan. Kegiatan daur ulang yang diadakan oleh Yayasan Tzu Chi mendapat dukungan penuh dari Bapak Leo. Menurut beliau, kegiatan ini patut untuk dilanjutkan.

Saudara Michael mengetahui Depo Daur Ulang Yayasan Tzu Chi dari temannya. Ia telah menjadi relawan selama kurang lebih 6 bulan. Menurutnya, depo daur ulang yang dikelola oleh Yayasan Tzu Chi ini memiliki tujuan yang baik sehingga membuatnya tertarik untuk menjadi relawan. Selain itu, Saudara Michael juga mendukung penuh kegiatan ini dengan menyetujui agar kegiatan ini dapat terus berlangsung.

Kami juga mendapatkan berbagai informasi mengenai Yayasan Tzu Chi dan Depo Daur Ulang yang dikelolanya dari beberapa shijie, dan shixiong. Kami akhirnya mengetahui bahwa terdapat berbagai macam panggilan untuk beberapa relawan yang terdapat di Tzu Chi, salah satunya adalah shijie dan shixiong. Depo daur ulang ini dikhususkan untuk mengolah botol-botol plastik bekas yang didapat dari warga. Sumbangan botol bekas bersifat bebas, siapapun dapat menyumbangkan botol-botol plastik bekas dengan cara langsung datang ke Depo Daur Ulang.

Tzu Chi juga memiliki 4 misi 8 jejak langkah yang terus diusahakan agar dapat terwujud. Depo daur ulang didirikan sejak tahun 2009. Kegiatan daur ulang dilakukan untuk mengolah botol plastik bekas yang nantinya akan dijual ke pabrik-pabrik untuk diolah menjadi selimut, baju, dan beberapa barang berguna lainnya. Uang yang didapat dari hasil penjualan akan diberikan kepada Yayasan Tzu Chi Pusat yang berada di Pantai Indah Kapuk, dan digunakan untuk membantu orang-orang yang sedang dalam kesusahan.

Depo Daur Ulang Yayasan Tzu Chi memiliki jadwal piket berbeda-beda tiap minggu untuk relawan tetap seperti shijie dan shixiong. Sehingga, relawan-relawan tetap di minggu pertama akan berbeda dengan relawan yang bertugas di minggu terakhir. Tzu Chi juga mengadakan kegiatan lain seperti baksos, dan kunjungan kasih.

Kami juga bertanya kepada relawan tetap (shijie dan shixiong) alasan mereka mau menjadi relawan. Iben Shixiong mengatakan bahwa Tzu Chi memiliki tujuan yang baik. Selain mengikuti kegiatan, Iben Shixiong juga diajarkan bagaimana cara untuk membina diri. Menurut Catherine Shijie, pemanasan global sudah cukup merusak bumi. “Kalau tidak dimulai dari kita, siapa lagi?”, begitu kata Catherine Shijie.

Kunjungan kami menjadi relawan di Depo Daur Ulang Yayasan Tzu Chi telah mengajarkan kami akan banyak hal. Kami diajarkan bagaimana menjadi seseorang yang mau mengolah sampah menjadi suatu hal yang berguna. Dengan kata lain, kami diajarkan untuk mengurangi kemungkinan pemanasan global dengan cara mendaur ulang. Sikap bertanggung jawab dan kemandirian juga ditanamkan pada diri kami. Selain itu, kami juga kagum akan relawan-relawan lain yang berasal dari berbagai macam usia, baik tua maupun muda. Hal ini menyadarkan kami akan rasa kepedulian tinggi yang mereka miliki untuk mau membantu dan menyukseskan Yayasan Tzu Chi dalam menolong orang-orang yang dalam kesusahan.








BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN

1.    KESIMPULAN

Yayasan Tzu Chi yang memiliki misi mulia ini pertama kali berdiri di Taiwan dan hanya memiliki sekitar 30 orang anggota kini tersebar di berbagai negara di dunia. Kelompok kami mendapat kesempatan untuk menjadi relawan di depo daur ulang di Jalan Teratai Summarecon Serpong. Di depo daur ulang ini, kami diajarkan berbagai hal untuk mengolah sampah botol plastik bekas kemasan minuman yang akan didaur ulang untuk dijual dan uang hasil penjualan akan disumbangkan kepada korban bencana alam. Disamping itu, depo daur ulang ini juga bermanfaat untuk mengurangi kemungkinan pemanasan global. Selain diajarkan mendaur ulang botol kami juga diajarkan untuk bersikap mandiri dan bertanggung jawab dengan mencuci piring dan gelas yang telah kami gunakan untuk makan dan minum sendiri. Yayasan ini adalah yayasan yang sangat baik dan sebaiknya tetap ada karena misinya yang sangat mulia dan menghimpun orang-orang yang mampu dan mau untuk berbagi dan membantu sesama yang sedang kesusahan, yayasan ini juga mengajarkan kita berbagai akhlak dan moral sebagai makhluk hidup seperti mengajarkan kita untuk hidup mandiri juga menjaga lingkungan agar tetap lestari.

2.    SARAN

Berdasarkan kesimpulan tersebut, disarankan agar yayasan dengan misi yang mulia ini dapat terus ada untuk membantu sesama yang sedang kesusahan dan juga mengajarkan orang-orang untuk dapat mencintai lingkungan agar tetap lestari.



DAFTAR PUSTAKA


Logo Tzu Chi. http://www.tzuchi.or.id/tentang-kami/logo-tzu-chi/47 (diakses 21 Juli 2014)

Penduduk Indonesia menurut Provinsi. Badan Pusat Statistik (BPS). http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?tabel=1&id_subyek=12 (diakses 21 Juni 2014)

Saatnya Gunakan Plastik Ramah Lingkungan. Indonesia Solid Waste Association. http://inswa.or.id/?p=1026 (diakses 21 Juni 2014)

Sejarah Tzu Chi. http://www.tzuchi.or.id/tentang-kami/sejarah-tzu-chi/28 (diakses 21 Juli 2014)





 LAMPIRAN
Kegiatan Mengolah Botol Plastik

Kegiatan Menginjak Botol Plastik yang Sudah Diolah

Kelompok Relawan Lain

Kelompok Relawan Lain

Hasil Botol yang Sudah Diolah

Hasil Botol yang Sudah Diolah





Foto Bersama



Kelompok Bunga Bleeding Heart


Video wawancara dapat dilihat di: 

  -http://www.youtube.com/watch?v=WjJTiIOfzWI (Wawancara dengan Shigu, Shicie, dan Shixiong)
  -http://www.youtube.com/watch?v=V7yVLYfjrNA (Wawancara dengan Saudara Michael)
  -http://www.youtube.com/watch?v=5EwoME9hlB0 (Wawancara dengan Bapak Leo)



1 comment:

  1. Mysuru Casino - The HERZAMMAN
    Mysuru Casino - The Home of the Best 출장안마 of the 바카라사이트 Slots! 바카라 사이트 Visit us to Play the best slots and enjoy the best table games in our casino. Visit us https://septcasino.com/review/merit-casino/

    ReplyDelete