LAPORAN
KEGIATAN
MENJADI
RELAWAN DI DEPO DAUR ULANG TZU CHI
-http://www.youtube.com/watch?v=WjJTiIOfzWI (Wawancara dengan Shigu, Shicie, dan Shixiong)
Program Studi Nutrition and Food
Technology
Kelas A
Kelompok Bunga Bleeding Heart
1.
Amirah
Yasminum (203136540110612)
2.
Elaine
Alethea (203132747016085)
3.
Felicia
Devina (203132609131280)
4.
Giovani
Tanjaya (203135459367867)
5.
Idelia
Sanjaya (203131617782536)
6.
Stella
Aprillia (203132790937313)
7.
Vania
Gisella (203138259265249)
Nilai Presentasi : 89,64
Tangerang
2014KATA PENGANTAR
Pertama-tama penulis panjatkan puja
dan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena tanpa-Nya penulis tidak
dapat menyelesaikan makalah tentang laporan kegiatan “Menjadi Relawan di Depo Daur
Ulang Tzu Chi” dengan baik dan tepat waktu. Tidak lupa penulis mengucapkan
terima kasih kepada Bapak Aryaning Arya Kresna selaku dosen pengampu
kewarganegaraan yang membimbing penulis dalam pengerjaan tugas makalah ini. Penulis
juga mengucapkan terima kasih kepada teman-teman penulis yang selalu setia
membantu dalam hal mengerjakan dan mengumpulkan data-data dalam pembuatan
makalah ini.
Penulis menyadari bahwa dalam
penyusunan makalah ini jauh dari sempurna, baik dari segi penyusunan, bahasan,
maupun penulisannya. Maka dari itu penulis
mohon saran & kritik yang membangun dari teman-teman dan khususnya dari
dosen guna menjadi bekal pengalaman bagi penulis agar menjadi lebih baik di
masa mendatang. Semoga makalah ini dapat bermanfaat untuk membangun wawasan dan
peningkatan pengetahuan bagi kita semua.
Tangerang, Juli
2014
Penulis
DAFTAR
ISI
Kata Pengantar...................................................................................................................... 1
Daftar Isi.................................................................................................................................. 2
Pendahuluan........................................................................................................................... 3
1. Latar Belakang.......................................................... .................................................. 3
2. Rumusan Masalah..................................................... .................................................. 3
3. Tujuan.......................................................................................................................... 4
4. Tinjauan Pustaka....................................................... ................................................... 4
Isi................................................................................................................ ........................... 6
Kesimpulan dan Saran............................................................................................................. 10
1. Kesimpulan................................................................................................................. 10
2. Saran.......................................................................................................................... 10
Daftar Pustaka......................................................................................................................... 11
Lampiran.................................................................................................................................. 12
BAB
I
PENDAHULUAN
1. LATAR BELAKANG
Berdasarkan data sensus penduduk tahun 2010, jumlah
penduduk Indonesia mencapai 237.641.326 jiwa (BPS, 2010).
Masyarakat Indonesia masih mengalami beberapa masalah yang disebabkan oleh
banyaknya jumlah penduduk yang ada, salah satunya dalam aspek pengelolaan
lingkungan. Banyak pohon yang ditebang untuk memenuhi kebutuhan kertas.
Penggunaan plastik sebagai kemasan juga berkontribusi besar dalam penumpukan
sampah sedangkan plastik membutuhkan waktu yang sangat lama untuk terurai.
Menurut data statistik persampahan domestik Indonesia, sampah plastik menduduki
peringkat kedua, yaitu sebesar 5.4 juta ton per tahun atau sekitar 14% dari
total produksi sampah. Pada peringkat ketiga terdapat sampah kertas dengan
jumlah 3.6 juta ton per tahun atau sekitar 9% dari total produksi sampah
(Indonesia Solid Waste Association, 2013).
Sekarang ini sering diadakan aksi penghijauan,
penghematan energi, serta daur ulang agar kondisi lingkungan tetap terjaga.
Setiap individu, terutama generasi muda perlu menyadari pentingnya pengelolaan
lingkungan seperti hal-hal tersebut agar lingkungan tidak rusak. Berdasarkan
tujuan tersebut, diharapkan setiap individu dapat bersama-sama menjadi relawan
di Depo Daur Ulang dan belajar mengolah sampah kertas maupun plastik agar dapat
dijadikan hal yang lebih bermanfaat.
2. RUMUSAN MASALAH
1.
Bagaimana Depo Daur Ulang Yayasan Tzu Chi mengelola
sampah kertas dan plastik yang mereka terima?
2.
Bagaimana
orang-orang yang ada di Depo Daur Ulang Yayasan Tzu Chi ingin menjadi relawan?
3.
Bagaimana
cara yang harus dilakukan untuk membantu kegiatan daur ulang?
3. TUJUAN
1.
Mendeskripsikan
cara mengelola sampah kertas dan plastik.
2.
Menumbuhkan
kesadaran masyarakat
pentingnya menjadi relawan daur ulang.
3.
Mengetahui
hal apa yang dapat dilakukan untuk
membantu kegiatan daur ulang.
4. TINJAUAN PUSTAKA
Yayasan Tzu Chi didirikan pertama kali di negara Taiwan
yang berlokasi di kota Hualien pada tanggal 14 April 1966. Pendiri yayasan Tzu
chi adalah Master Cheng Yen yang merupakan seorang bikhuni. Niat Master Cheng
Yen untuk membuat suatu yayasan sosial muncul ketika ayahnya meninggal dan
beliau menyadari bahwa hidup ini singkat dan selalu berubah. Sejak saat itulah,
beliau mendalami agama Buddha dan menjadi bikhuni pada tahun 1964.
Niat Master Cheng Yen semakin nyata
ketika beliau mengunjungi seorang temannya di sebuah balai pengobatan di daerah
Fenglin. Ketika beliau keluar dari kamar pasien, beliau mendapati bercak darah
di atas lantai yang ternyata milik seorang wanita yang mengalami keguguran.
Karena tidak memiliki biaya pengobatan, wanita tersebut akhirnya tidak dapat
berobat dan terpaksa dibawa pulang. Mendenger hal ini, Master Cheng yen
akhirnya memutuskan untuk menolong orang yang sakit dan miskin dengan
mengumpulkan dana amal di Taiwan bagian timur.
Kegiatan pertama yang dilakukan adalah
merajut sepasang sepatu bayi untuk fakir miskin. Setiap anggota diberi sebuah
celengan bambu agar dapat menyisihkan sedikit dari uang mereka untuk
disumbangkan. Kabar ini kemudian meluas dan semakin banyak umat yang ingin
menyumbang. Yayasan Tzu Chi yang awalnya hanya berada di tempat yang tidak
sampai 20 m2, kini telah menjadi sebuah yayasan yang tersebar di
berbagai negara di dunia. Negara-negara tersebut adalah Taiwan, Australia,
Selandia Baru, Malaysia, Indonesia, Filipina, Thailand, Singapura, Jepang, Hong
Kong, Vietnam, Brunei, Amerika Serikat, Kanada, Meksiko, Republik Dominika, El
Salvador, Guatemala, Paraguay, Brasil, Argentina, Austria, Britania Raya,
Perancis, Jerman, Belanda, Spanyol, Yordania, Turki, Afrika Selatan, dan
Lesotho.
Anggota dari yayasan Tzu Chi ini
digolongkan berdasarkan 4 jenis pakaian yang mereka kenakan, yaitu: Jas dan
Chong Sam, kaus berwarna biru tua, kaus berwarna abu-abu, dan kaus berwarna
biru keunguan. Jas dan Chong Sam merupakan tingkatan keanggotaan tertinggi,
yang disebut juga komite. Anggota yang telah mencapai tingkatan ini akan
dilantik langsung oleh Master Cheng Yen. Kaus berwarna biru tua dikenakan oleh
para anggota relawan yang lebih tua atau yang telah berumur. Dalam acara-acara
tertentu, para komite juga akan memakai kaus berwarna biru tua. Kaus berwarna
abu-abu dipakai oleh semua kalangan. Tingkatan ini merupakan tingkatan yang
umum. Dalam tingkatan ini, tidak hanya terdapat orang dewasa, anak-anak juga
dapat masuk ke dalam tingkatan ini. Kaus berwarna biru keunguan ini dipakai
untuk relawan yang tergolong remaja. Tingkatan relawan ini disebut juga tzu jing.
Untuk menghormati orang yang lebih
tua, relawan-relawan tzu chi akan memanggil relawan yang sudah komite dan yang
memakai kaus berwarna biru tua dengan sebutan
shi ku dan shi bo. Shi ku merupakan panggilan untuk wanita dan shi bo untuk pria. Dalam Tzu jing, mereka akan memanggil kakak
mereka dengan shixiong untuk
laki-laki dan shijie untuk perempuan.
Logo Tzu Chi dilambangkan dengan bunga
teratai yang memiliki 8 kelopak yang melambangkan 8 jalan mulia yang meliputi:
pandangan benar, pikiran benar, ucapan benar, perbuatan benar, mata pencaharian
benar, usaha benar, perhatian benar, dan konsentrasi benar. Gambar perahu
melambangkan Tzu Chi sebagai pengemudi cinta kasih yang akan menyelamatkan
makhluk hidup dari penderitaan.
![]() |
| Logo Tzu Chi |
BAB
II
ISI
Pada tanggal
25 Mei 2014, kami dari kelompok bunga Bleeding
Heart berkesempatan untuk menjadi relawan di depo daur ulang yang dikelola
oleh Yayayan Buddha Tzu Chi. Depo ini berlokasi di Jalan Teratai Summarecon
Serpong, Tangerang. Sebelum menjadi relawan, kami mendaftarkan diri ke Kantor
Penghubung Tzu Chi yang berlokasi di Komplek Ruko Pinangsia Blok L No. 22,
Karawaci, Tangerang. Setelah itu, kami mendapatkan persetujuan untuk menjadi
relawan di depo daur ulang.
Kegiatan
diawali dengan tibanya kami di depo daur ulang pukul 8.00 dan bertemu dengan
pengurus serta relawan-relawan lain. Kami diarahkan ke suatu tempat dan
dijelaskan bagaimana kami harus memulai. Gunting, tang, ember, dan botol-botol
plastik bekas sudah disiapkan untuk kami. Ternyata, hal yang harus kami lakukan
adalah melepas ring botol, merobek
plastik botol, memisahkan tutup botol, dan menginjak-injak botol serta
memisahkan botol berwarna.
Kelompok kami
terdiri dari 7 orang, yaitu Amirah Yasminum S., Elaine Alethea, Felicia Devina,
Giovani Tanjaya, Idelia Sanjaya, Stella Aprillia, dan Vania Gisella yang terbagi
menjadi 2 tim. Memisahkan ring, tutup
serta plastik botol dilakukan oleh Felicia, Giovani, Idelia, Stella, dan Vania.
Sedangkan, Amirah dan Elaine bertugas untuk menginjak botol dan melakukan
pemisahan terhadap botol-botol berwarna.
Kegiatan daur
ulang berlangsung selama empat jam diselingi dengan makan snack dan makan siang sebagai penutup. Setelah dua jam berlalu,
kami diberi waktu istirahat. Beberapa jenis kue serta jelly telah dipersiapkan sebelumnya oleh shijie (sebutan untuk relawan perempuan) dan shixiong (sebutan untuk relawan laki-laki). Kami makan bersama-sama
dengan relawan lain dan pengurus Tzu Chi. Waktu juga kami manfaatkan untuk
berbincang-bincang dengan relawan lain.
Setelah kami
menghabiskan snack dan jelly, piring
yang kami gunakan harus kami cuci sendiri. Disini kami diajarkan untuk bersikap
mandiri dan bertanggung jawab atas barang-barang yang telah kami gunakan.
Selesai mencuci, kami melanjutkan kegiatan daur ulang kembali. Walaupun begitu
banyak botol plastik yang harus diolah, tetapi kami melihat ada keceriaan
diantara relawan-relawan daur ulang. Hal ini menyemangati kami untuk terus
melanjutkan tugas mendaur ulang hingga selesai.
Dua jam
berlalu, tiba saatnya kami menyelesaikan semua pekerjaan dan makan siang. Hasil
daur ulang botol yang didapatkan oleh kelompok kami dan relawan-relawan lain
kemudian disatukan. Tidak terasa, jumlah tumpukkan botol-botol plastik yang
telah diolah sangat banyak. Kerja keras yang telah dilakukan kami beserta
relawan-relawan lain membuahkan hasil yang memuaskan. Setelah itu, kami makan
siang dan berfoto bersama. Kami juga mewawancarai beberapa relawan, shijie, dan shixiong.
Wawancara yang
kami lakukan memuat 4 pertanyaan penting:
1.
Darimanakah
Anda mengetahui Depo Daur Ulang Yayasan Tzu Chi?
2.
Sudah
berapa lama Anda menjadi relawan?
3.
Mengapa
Anda tertarik untuk menjadi relawan?
4.
Apa
tanggapan, kesan dan pesan Anda terhadap Depo Daur Ulang Yayasan Tzu Chi?
Kami memutuskan untuk mewawancarai 2
relawan, shijie, shixiong, dan
pengurus Depo Daur Ulang Yayasan Tzu Chi.
Bapak Leo mengetahui Depo Daur Ulang
Yayasan Tzu Chi dari tetangga serta kerabatnya. Beliau telah menjadi relawan
selama kurang lebih 3 bulan. Menurut Bapak Leo, Yayasan Tzu Chi menghasilkan
hal-hal yang baik. Barang-barang yang tidak berguna diolah menjadi sesuatu yang
berguna, dan nantinya akan dijual. Hasil dari penjualan akan digunakan yayasan
untuk membantu orang-orang yang kesusahan. Selain itu, tujuan dari Tzu Chi juga
dinilai baik yang membuat Bapak Leo tertarik untuk bergabung menjadi relawan.
Kegiatan daur ulang yang diadakan oleh Yayasan Tzu Chi mendapat dukungan penuh
dari Bapak Leo. Menurut beliau, kegiatan ini patut untuk dilanjutkan.
Saudara Michael mengetahui Depo Daur
Ulang Yayasan Tzu Chi dari temannya. Ia telah menjadi relawan selama kurang
lebih 6 bulan. Menurutnya, depo daur ulang yang dikelola oleh Yayasan Tzu Chi
ini memiliki tujuan yang baik sehingga membuatnya tertarik untuk menjadi
relawan. Selain itu, Saudara Michael juga mendukung penuh kegiatan ini dengan
menyetujui agar kegiatan ini dapat terus berlangsung.
Kami juga mendapatkan berbagai
informasi mengenai Yayasan Tzu Chi dan Depo Daur Ulang yang dikelolanya dari
beberapa shijie, dan shixiong. Kami akhirnya mengetahui bahwa
terdapat berbagai macam panggilan untuk beberapa relawan yang terdapat di Tzu
Chi, salah satunya adalah shijie dan shixiong. Depo daur ulang ini
dikhususkan untuk mengolah botol-botol plastik bekas yang didapat dari warga.
Sumbangan botol bekas bersifat bebas, siapapun dapat menyumbangkan botol-botol
plastik bekas dengan cara langsung datang ke Depo Daur Ulang.
Tzu Chi juga memiliki 4 misi 8 jejak
langkah yang terus diusahakan agar dapat terwujud. Depo daur ulang didirikan
sejak tahun 2009. Kegiatan daur ulang dilakukan untuk mengolah botol plastik
bekas yang nantinya akan dijual ke pabrik-pabrik untuk diolah menjadi selimut,
baju, dan beberapa barang berguna lainnya. Uang yang didapat dari hasil
penjualan akan diberikan kepada Yayasan Tzu Chi Pusat yang berada di Pantai
Indah Kapuk, dan digunakan untuk membantu orang-orang yang sedang dalam
kesusahan.
Depo Daur Ulang Yayasan Tzu Chi
memiliki jadwal piket berbeda-beda tiap minggu untuk relawan tetap seperti shijie dan shixiong. Sehingga, relawan-relawan tetap di minggu pertama akan
berbeda dengan relawan yang bertugas di minggu terakhir. Tzu Chi juga
mengadakan kegiatan lain seperti baksos, dan kunjungan kasih.
Kami juga bertanya kepada relawan
tetap (shijie dan shixiong) alasan mereka mau menjadi
relawan. Iben Shixiong mengatakan
bahwa Tzu Chi memiliki tujuan yang baik. Selain mengikuti kegiatan, Iben
Shixiong juga diajarkan bagaimana cara untuk membina diri. Menurut Catherine Shijie, pemanasan global sudah cukup
merusak bumi. “Kalau tidak dimulai dari kita, siapa lagi?”, begitu kata
Catherine Shijie.
Kunjungan kami menjadi relawan di
Depo Daur Ulang Yayasan Tzu Chi telah mengajarkan kami akan banyak hal. Kami
diajarkan bagaimana menjadi seseorang yang mau mengolah sampah menjadi suatu
hal yang berguna. Dengan kata lain, kami diajarkan untuk mengurangi kemungkinan
pemanasan global dengan cara mendaur ulang. Sikap bertanggung jawab dan
kemandirian juga ditanamkan pada diri kami. Selain itu, kami juga kagum akan
relawan-relawan lain yang berasal dari berbagai macam usia, baik tua maupun
muda. Hal ini menyadarkan kami akan rasa kepedulian tinggi yang mereka miliki
untuk mau membantu dan menyukseskan Yayasan Tzu Chi dalam menolong orang-orang
yang dalam kesusahan.
BAB
III
KESIMPULAN DAN SARAN
1. KESIMPULAN
Yayasan Tzu
Chi yang memiliki misi mulia ini pertama kali berdiri di Taiwan dan hanya
memiliki sekitar 30 orang anggota kini tersebar di berbagai negara di dunia.
Kelompok kami mendapat kesempatan untuk menjadi relawan di depo daur ulang di
Jalan Teratai Summarecon Serpong. Di depo daur ulang ini, kami diajarkan
berbagai hal untuk mengolah sampah botol plastik bekas kemasan minuman yang
akan didaur ulang untuk dijual dan uang hasil penjualan akan disumbangkan
kepada korban bencana alam. Disamping itu, depo daur ulang ini juga bermanfaat
untuk mengurangi kemungkinan pemanasan global. Selain diajarkan mendaur ulang
botol kami juga diajarkan untuk bersikap mandiri dan bertanggung jawab dengan
mencuci piring dan gelas yang telah kami gunakan untuk makan dan minum sendiri.
Yayasan ini adalah yayasan yang sangat baik dan sebaiknya tetap ada karena
misinya yang sangat mulia dan menghimpun orang-orang yang mampu dan mau untuk
berbagi dan membantu sesama yang sedang kesusahan, yayasan ini juga mengajarkan
kita berbagai akhlak dan moral sebagai makhluk hidup seperti mengajarkan kita
untuk hidup mandiri juga menjaga lingkungan agar tetap lestari.
2. SARAN
Berdasarkan
kesimpulan tersebut, disarankan agar yayasan dengan misi yang mulia ini dapat
terus ada untuk membantu sesama yang sedang kesusahan dan juga mengajarkan
orang-orang untuk dapat mencintai lingkungan agar tetap lestari.
DAFTAR PUSTAKA
Penduduk Indonesia menurut Provinsi.
Badan Pusat Statistik (BPS). http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?tabel=1&id_subyek=12 (diakses 21 Juni 2014)
Saatnya Gunakan Plastik Ramah
Lingkungan. Indonesia Solid Waste Association. http://inswa.or.id/?p=1026 (diakses 21 Juni 2014)
LAMPIRAN
![]() |
| Kegiatan Mengolah Botol Plastik |
![]() |
| Kegiatan Menginjak Botol Plastik yang Sudah Diolah |
![]() |
| Kelompok Relawan Lain |
![]() |
| Kelompok Relawan Lain |
![]() |
| Hasil Botol yang Sudah Diolah |
![]() |
| Hasil Botol yang Sudah Diolah |
![]() | ||||
| Foto Bersama |
-http://www.youtube.com/watch?v=V7yVLYfjrNA (Wawancara dengan Saudara Michael)
-http://www.youtube.com/watch?v=5EwoME9hlB0 (Wawancara dengan Bapak Leo)










Mysuru Casino - The HERZAMMAN
ReplyDeleteMysuru Casino - The Home of the Best 출장안마 of the 바카라사이트 Slots! 바카라 사이트 Visit us to Play the best slots and enjoy the best table games in our casino. Visit us https://septcasino.com/review/merit-casino/